Manfaat Main Game Mobile Legends bagi Pelajar, Orangtua Perlu Tahu – Kompas.com – KOMPAS.com

Manfaat Main Game Mobile Legends bagi Pelajar, Orangtua Perlu Tahu

KOMPAS.com – Tim Laboratorium Cognition, Affect, and Well-Being (CAW Lab) Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) bersama platform gim kompetitif khusus pelajar Mabar.com, merilis hasil riset terbarunya mengenai manfaat bermain gim pada pelajar.
Riset tersebut fokus pada salah satu game esports yang kini banyak diminati di Indonesia yakni mobile legends, pekan lalu.
Acara diawali dengan simulasi esport kelompok gim kompetitif dari dua grup pelajar yakni perwakilan siswa dari SMA Marsudirini Bekasi dan SMA 68 Jakarta.
Sesuai dengan namanya, esports adalah electronic sport yang merupakan olahraga elektronik dan kompetisi video game. Pada zaman digital ini, kegiatan tersebut semakin marak diperlombakan. Seperti olahraga lainnya, esports dapat dilakukan secara individual maupun dengan tim.
Baca juga: Jangan Salah Pilih Jurusan Kuliah, Ada 9 Profesi Paling Dicari 2030
Namun, masih banyak kalangan masyarakat yang menganggap bahwa gim mengganggu proses belajar anak. Untuk membuktikannya, maka dilakukan riset terkait dampak bermain game esports mobile legends pada pelajar.
Peluncuran hasil riset dihadiri oleh Ketua Tim Peneliti dari CAW Lab FPsi UI, Psikolog Dr. Dyah T. Indirasari, M.A, Ketua CAW Lab FPsi UI Agnes Nauli S.W. Sianipar, M.Sc., Ph.D, dan CEO sekaligus Co-Founder MABAR.com, Aziz Hasibuan, di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi di Jakarta.

Simulasi esport kelompok gim kompetitif Angela Siallagan Simulasi esport kelompok gim kompetitif

Aziz Hasibuan menjelaskan, menurut survei internal yang dilakukan sebelumnya, tim MABAR menemukan bahwa orang tua dan guru masih khawatir esports akan mengganggu proses belajar anak.
Namun, di sisi lain, riset menunjukkan bahwa gaming dan pelatihan esports dapat memengaruhi fungsi kognitif dan psikologi anak.
Oleh karena itu, peneliti merasa perlu menelusuri lebih dalam tentang tentang esport yang terjadi di kalangan pelajar, sehingga mengetahui fenomena yang terjadi di Indonesia.
Riset dilakukan dengan membentuk tiga grup pelajar yakni kelompok competitive gamer (gim kompetitif), casual gamer (gim kasual), dan non-gamer (bukan pemain gim). Peneliti ingin mengukur kemampuan kognitif dan psikologis pelajar dengan memberikan tugas yang sama.
Baca juga: Erick Thohir Sebut 9 Pekerjaan Bakal Hilang di 2030, Ada Pekerjaanmu?
Dari ketiga grup tersebut ditemukan bahwa setidaknya ada empat aspek kognitif dan psikologis utama di mana pelajar yang merupakan “competitive gamer” lebih unggul dibandingkan grup lainnya.
“Pertama, pada aspek kontrol respons yang membuat orang lebih fokus. Kedua, akurasi yang jauh lebih tinggi. Ketiga, kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Keempat adalah kepribadian yang tidak impulsif dan tidak rentan stres,” ungkap Dyah T. Indirasari.
Riset tersebut menyimpulkan gim kompetitif seperti esport dapat melatih daya juang pelajar jika dibandingkan dengan pemain gim kasual, dan tidak bermain gim. Berikut manfaat bermain gim kompetitif bagi perkembangan kognitif dan psikologis pelajar:
Pelajar dari kelompok gim kompetitif dinilai lebih fokus dan tidak impulsif dibandingkan kelompok lain. Mereka memiliki kontrol respons yang jauh lebih baik dari pada pemain gim kasual dan yang tidak bermain gim.
Gim kompetitif tidak menunjukkan kontrol atensi dan fleksibilitas kognitif yang lebih baik daripada gim kasual. Namun, menunjukkan tingkat akurasi yang jauh lebih tinggi dari pada gim kasual dalam menyelesaikan tugas.
Hal ini membuktikan bahwa kontrol respon yang baik membuat seseorang menjadi lebih baik dalam menghalau distraksi.
Baca juga: Cara Daftar DTKS 2022 untuk Dapat KJP Plus, KJMU, hingga Bansos
Gim kompetitif memiliki kemampuan regulasi emosi yang lebih baik, dibandingkan kelompok yang tidak bermain gim.
Mereka juga memiliki kepribadian yang tidak impulsif dan tidak rentan terhadap emosi negatif maupun stres.
Kemampuan regulasi emosi yang baik, berperan untuk menghindari seseorang menjadi adiktif atau kecanduan.
Gim kompetitif memiliki self control setara dengan yang tidak bermain gim dan gim kasual.
Kemampuan pengendalian diri yang setara dengan kelompok lain membuktikan bahwa gim kompetitif tidak memiliki pengendalian diri yang buruk.
Hal ini menjadi indikasi bahwa terdapat kesetaraan kemampuan menahan diri dari kecanduan pada setiap kelompok.
Baca juga: Cara Cek Siswa Penerima Bantuan Kartu Indonesia Pintar SD-SMA 2022
Hasil riset MABAR Esports Student Athlete Research juga menunjukkan adanya kekuatan karakter-karakter positif pada grup pelajar gim kompetitif. Hal tersebut dapat menjadi fondasi pembentukan profil Pelajar Pancasila, sesuai visi kemendikbud 2020-2024 dengan enam elemen profil:
1. Bernalar kritis
Kemampuan merespons dengan akurasi yang tinggi, fokus, dan tidak impulsif dapat menunjang profil bernalar kritis di mana dalam mengambil keputusan, pelajar terlebih dahulu memproses informasi, menganalisis penalaran, dan merefleksikan pemikiran.
2. Kreatif
Kemampuan regulasi emosi dan kontrol respons yang terlatih dengan baik dapat membantu pelajar untuk menghasilkan gagasan, karya, dan tindakan orisinal.
Baca juga: 6 Tanda Anak Cerdas Secara Emosional dan Cara Mengoptimalkannya
3. Mandiri
Grit atau daya juang yang baik bisa memperkuat kemandirian pelajar, karena melatih kesadaran akan diri, minat, dan situasi yang dihadapi, kemudian meregulasi diri dan berusaha keras mencapai tujuan.
4. Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia
Kemampuan pengendalian diri dapat menjadi fondasi untuk pelajar mengembangkan akhlak mulia sesuai ajaran agama dan kepercayaannya.
5. Bergotong royong
Regulasi emosi dapat meningkatkan kemampuan gotong royong pelajar, sehingga mereka bisa berkolaborasi, meningkatkan kepedulian, dan berbagi dengan sesama.
Baca juga: 8 Beasiswa Penuh S1-S3 di Bulan September-Oktober 2022, Segera Daftar
6. Berkebinekaan global
Kemampuan regulasi emosi yang baik dapat mendukung kemampuan pelajar dalam komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama.
Untuk dapat mencapai profil Pelajar Pancasila, dibutuhkan sejumlah elemen kunci karakter yang perlu dikembangkan. Hal ini berkaitan erat dengan kemampuan kognitif dan psikologis.
Agnes menambahkan bahwa “terdapat sejumlah anggapan bahwa generasi muda saat ini merupakan generasi stroberi atau lembek. Kami menemukan bahwa esports justru dapat meningkatkan grit pelajar.”
Sebagai contoh, grit atau daya juang yang baik, bisa memperkuat kemandirian pelajar karena dapat melatih kesadaran diri, minat, situasi yang dihadapi, kemudian meregulasi diri dan berusaha keras mencapai tujuan.
Maka, hal ini memperkuat rekomendasi peneliti tentang pentingnya mewadahi esports, sehingga pelajar tidak bermain gim diam-diam dan tanpa arah.
Aziz menyebutkan esports dapat membantu pelajar untuk lebih olah hati, olah rasa, olah karsa, dan olah raga. Maka, lebih baik menjadi gim kompetitif dari pada gim kasual karena gim kompetitif mendukung pelajar menjadi menjadi cerdas berkarakter.
Selain itu, gim kompetitif juga akan lebih fokus dan tidak impulsif, akurasi tinggi dalam menyelesaikan tugas dan masalah, kontrol respons lebih baik, regulasi emosi jauh lebih baik, dan bekerja keras terhadap tujuan.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Dapatkan informasi dan insight pilihan redaksi Kompas.com
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

source